INTEGRASI berbagai jenis data akan mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Dinas Komunikasi Informatika (Kominfo) dan Statistik Ponorogo sedang mematangkan sistem informasi geospasial (SIG) lyang bermanfaat untuk perencanaan tata ruang, manajemen transportasi, pengelolaan sumber daya alam, dan pemetaan risiko bencana itu.

Karena perannya sebagai wali data, Dinas Kominfo dan Statistik Ponorogo menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan Bappeda, Dinas PUPKP, BPBD, dan BPS guna menyusun kerangka kerja pengelolaan data geospasial yang lebih terintegrasi. “Perlu sinergi antarinstansi untuk menciptakan ekosistem data yang kuat,” kata Kepala Bidang Statistik di Dinas Kominfo dan Statistik Herly Wahyu Margalina, Selasa (22/7/2025).
Data geospasial terbilang unik karena selalu terkait dengan lokasi geografis yang biasanya direpresentasikan dalam bentuk koordinat. Selain itu, mencakup informasi tentang objek atau fenomena yang berada di suatu lokasi seperti jenis bangunan, ketinggian tanah, atau kepadatan penduduk. “Kami ingin memastikan Ponorogo mampu menyediakan data geospasial yang terbuka, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Lina –sapaan Herly Wahyu Margalina.
Salah satu hasil penting dari rakor itu adalah pemanfaatan aplikasi SIPRAS (Sistem Informasi Bidang Prasarana) sebagai platform utama yang akan diajukan dalam ajang Satu Data Jawa Timur Award 2025. SIPRAS dinilai representatif dalam mengintegrasikan data spasial dan informasi sektoral lintas perangkat daerah.

Selain itu, Ponorogo juga berencana mereplikasi aplikasi SIMOJANG milik Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk mendukung monitoring dan evaluasi simpul jaringan data geospasial di tingkat kabupaten. Langkah ini ditujukan agar kebijakan daerah berjalan searah dengan standar dan regulasi nasional. “Penting untuk segera menggelar pelatihan teknis bagi pengelola data geospasial di setiap organisasi perangkat daerah,” terang Lina. (kominfo/art/dna)
